Kisah Abu Bakar Menyikapi Berita Isra Mikraj

Kisah Abu Bakar Menyikapi Berita Isra Mikraj

Kisah Abu Bakar Menyikapi Berita Isra Mikraj

Kali ini masih dalam bahasan Isra dan Mikraj, bagaimana sikap Abu Bakar dalam menerima berita Isra dan Mikraj.

Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan kepada manusia tentang peristiwa Isra. Mereka bertanya, “Ke mana?” Beliau menjawab, “Ke Baitul Maqdis.” Mereka berkata, “Kemudian pagi ini, kamu sudah berada di tengah-tengah kami lagi?” Beliau menjawab, “Ya.”

Ibnu Abbas berkata, “Ada yang bertepuk tangan, ada juga yang meletakkan tangannya di kepala karena merasa heran dengan kebohongan yang diklaimnya.” Mereka bertanya lagi, “Apakah kamu mampu menggambarkan kepada kami masjid Al-Aqsha itu?” Karena di antara mereka ada yang pernah mengunjungi wilayah tersebut dan melihat masjidnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku pun menggambarkannya, hingga aku sedikit bimbang tentang gambarannya. Tiba-tiba aku diperlihatkan masjid itu dengan jelas seakan-akan diletakkan di depan rumah Uqail, maka aku pun menyebutkan semua ciri-cirinya sambil melihat bangunan tersebut.”

Ibnu Abbas berkata, “Adapun ciri-ciri tersebut aku tidak hafal.” Maka mereka pun berkata, “Adapun ciri-cirinya demi Allah semua benar.” (HR. Ahmad dalam musnadnya, tahqiq Ahmad Syakir, 4:293, no. 2820, sanad hadits ini sahih. Disebutkan juga oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 1:64-65).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pada pagi harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada kaumnya apa yang Allah Ta’ala perlihatkan kepadanya berupa ayat-ayat-Nya yang besar. Maka mereka pun semakin mendustakannya, menyakiti, dan melecehkannya. Beliau juga menceritakan tentang kafilah mereka yang tengah di perjalanan dan kapan tibanya.

Beliau juga menceritakan tentang unta yang terlepas. Dan realitanya persis seperti apa yang dikatakannya. Namun, semua itu tidak menambahkan, kecuali semakin menjauhnya mereka dari kebenaran dan orang-orang zalim tidak menginginkan, kecuali kekufuran.” (Zaad Al-Ma’ad, 3:39)

Inilah sikap orang-orang kafir terhadap peristiwa Isra dan Mikraj, sementara sebagian orang yang telah menyatakan Islam, tetapi keimanan mereka masih lemah menjadi murtad. Lihat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (3:62), status riwayat ini, sanadnya sahih dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi.

Iman mereka goyah karena persoalan yang sepele. Sementara itu, sekelompok lain imannya semakin mantap seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika menerima informasi tersebut, beliau langsung membenarkannya tanpa ada keraguan sedikit pun.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperjalankan ke Masjidil Aqsha, maka orang-orang pun mulai memperbincangkannya. Sebagian orang yang sebelumnya beriman dan membenarkannya menjadi murtad, mereka pun datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu seraya berkata,

هَلْ لَكَ إِلَى صَاحِبِكَ يَزْعَمُ أَسْرَى بِهِ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ ؟

“Apakah engkau mengetahui kalau temanmu mengaku melakukan perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis?”

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya,

أَوْ قَالَ ذَلِكَ ؟

“Apakah ia mengatakan seperti itu?” “Iya”, jawabnya.

Abu Bakar berkata,

لَئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ

“Andai ia memang mengatakan seperti itu sungguh ia benar.”

Mereka berkata,

أَوْ تُصَدِّقُهُ أَنَّهُ ذَهَبَ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ وَ جَاءَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ؟

“Apakah engkau mempercayainya bahwa ia pergi semalaman ke Baitul Maqdis dan sudah kembali pada pagi harinya?”

Abu Bakar menjawab,

نَعَمْ إِنِّي لَأُصَدِّقُهُ فِيْمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ

“Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.”

Aisyah mengatakan,

فَلِذَلِكَ سُمِّيَ أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ

“Itulah mengapa beliau dinamakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkannya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3:65. Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam At-Talkhish mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Ada perbedaan pendapat di kalangan salaf sesuai dengan perbedaan riwayat yang ada tentang Isra dan Mikraj. Di antara mereka, ada yang berpendapat bahwa Isra dan Mikraj terjadi dalam malam yang sama, dalam keadaan sadar, dengan jasad dan ruhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsetelah beliau diangkat menjadi Nabi, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama hadits, ulama fikih, dan ulama akidah. Pendapat ini diperkuat dengan riwayat-riwayat yang sahih yang tidak mungkin menolaknya.” (Fath Al-Bari, 7:197)

Sedangkan peristiwa bertemunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para nabi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

أَمَّا رُؤْيَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الطَّوَافِ فَهَذَا كَانَ رُؤْيَا مَنَامٍ لَمْ يَكُنْ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ كَذَلِكَ جَاءَ مُفَسَّرًا كَمَا رَأَى الْمَسِيحَ أَيْضًا وَرَأَى الدَّجَّالَ . وَأَمَّا رُؤْيَتُهُ وَرُؤْيَةُ غَيْرِهِ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ فِي السَّمَاءِ لَمَّا رَأَى آدَمَ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا وَرَأَى يَحْيَى وَعِيسَى فِي السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ وَيُوسُفَ فِي الثَّالِثَةِ وَإِدْرِيسَ فِي الرَّابِعَةِ وَهَارُونَ فِي الْخَامِسَةِ وَمُوسَى فِي السَّادِسَةِ وَإِبْرَاهِيمَ فِي السَّابِعَةِ أَوْ بِالْعَكْسِ فَهَذَا رَأَى أَرْوَاحَهُمْ مُصَوَّرَةً فِي صُوَرِ أَبْدَانِهِمْ . وَقَدْ قَالَ بَعْضُ النَّاسِ : لَعَلَّهُ رَأَى نَفْسَ الْأَجْسَادِ الْمَدْفُونَةِ فِي الْقُبُورِ ؛ وَهَذَا لَيْسَ بِشَيْءِ.

“Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Nabi Musa ‘alaihis salam ketika thawaf, maka yang dimaksud adalah melihat dalam mimpi, bukan melihat pada malam Mikraj. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Al-Masih (Nabi Isa) dan juga melihat Dajjal. Adapun melihat nabi lainnya pada malam Mikraj di langit, di mana ketika itu beliau melihat Adam di langit dunia, lalu melihat Yahya dan Isa di langit kedua, lalu melihat Yusuf di langit ketiga, lalu melihat Idris di langit keempat, lalu melihat Harun di langit kelima, lalu melihat Musa di langit keenam, lalu melihat Ibrahim di langit ketujuh–atau sebaliknya–, maka yang dimaksud adalah melihat arwah (ruh mereka) yang dibentuk seperti tubuh mereka. Sebagian orang menyatakan bahwa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lihat adalah jasad yang sudah dikubur dalam kubur. Yang terakhir ini tidaklah benar.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 4:328).

Demikian kisah Isra dan Mikraj, nantikan pelajaran berharga di edisi selanjutnya insya Allah. Semoga Allah berikan ilmu yang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *